FORKOPINDA
WONOGIRI HADIRI UPACARA PERINGATAN HARDIKNAS
Wonogiri,
Bertempat di Lapangan Pringgodani Wonogiri Jl. Gatot Subroto Wonokarto Kab.
Wonogiri telah dilaksanakan kegiatan Upacara Peringatan Hari Pendidikan
Nasional Tahun 2018 dengan tema "Kita Mantapkan Sesarengan Mbangun
Wonogiri dalam rangka Memperkuat Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan",
Rabu (2/5).
Hadir
dalam Upacara tersebut Bupati Wonogiri Joko Sutopo, Dandim 0728/Wonogiri Lekol
Inf M Heri Amrulloh S.Sos., MH, Kapolres Wonogiri AKBP Roberto Pardede,
SIK.MIK. di wakili oleh Kompol Sukatno, Wakil Bupati Kab. Wonogiri Edi Santoso SH, Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri
Setyo Sukarno, Kepala Pengadilan Negeri Wonogiri Mohammad Istiadi, SH, MH.,
Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri Dodi Budi Kelana SH.MH.,
Amanat
Pidato Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) yang di bacakan
oleh Inspektur Upacara Joko Sutopo Berkenaan dengan Peringatan Hari Pendidikan
Nasional 2018, marilah kita bersyukur kepada Tuhan Allah Yang Mahakuasa.
Sebagaimana kita ketahui, tanggal 2 Mei telah ditetapkan sebagai Hari
Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal kelahiran Raden
Mas Soewardi Soerjaningrat, seorang tokoh pendidikan Indonesia, yang kemudian
lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Dalam memperingati Hari
Pendidikan Nasional tahun 2018 ini kita mengambil tema “Menguatkan Pendidikan,
Memajukan Kebudayaan”. Sesuai dengan tema tersebut, marilah kita jadikan
peringatan kali ini sebagai momentum untuk merenungkan hubungan erat antara
pendidikan dan kebudayaan sebagaimana tecermin dalam ajaran, pemikiran, dan
praktik pendidikan yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara.
Peringatan
Hari Pendidikan Nasional kali ini juga kita jadikan momentum untuk melakukan
muhasabah, mesu budi, atau refleksi terhadap usaha-usaha yang telah kita
perjuangkan di bidang pendidikan. Dalam waktu yang bersamaan kita menerawangke
depan atau membuat proyeksi tentang pendidikan nasional yang kita cita-citakan.
Pada Hari Pendidikan Nasional 2018 ini kita perlu merenung sejenak untuk
menengok ke belakang, melihat apa yang telah kita kerjakan di bidang
pendidikan, untuk kemudian bergegas melangkah ke depan guna menggapai cita-cita
masa depan pendidikan nasional yang didambakan. Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Tahun 2003, BAB I, Pasal 1 ayat 2, disebutkan bahwa pendidikan
nasional kita adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945, sedangkan kebudayaan nasional merupakan akar pendidikan nasional.
Di sinilah terjadinya titik temu antara pendidikan dan kebudayaan.
Jika
kebudayaan nasional kita menghujam kuat di dalam tanah tumpah darah Indonesia,
akan subur dan kukuh pulalah bangunan pendidikan nasional Indonesia. Di samping
itu, disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan
akan mempertegas posisi kebudayaan nasional sebagai ruh, pemberi hidup, dan
penyangga bangunan pendidikan nasional kita. Oleh sebab itu, kebudayaan yang
maju adalah prasyarat yang harus dipenuhi jikaingin pendidikan nasional tumbuh
subur, kukuh, dan menjulang. Atas dasar pikiran di atas, pada Hari Pendidikan
Nasional 2018 ini kita berkomitmen untuk terus berikhtiar membangun pendidikan.
Pendidikan yang dihidupi dan disinari oleh kebudayaan nasional. Kita yakin
bahwa kebudayaan yang maju akan membuat pendidikan kita kuat. Begitu pula
sebaliknya, jika pendidikan kita subur dan rindang, akar kebudayaan akan lebih
menghunjam kian dalam di tanah tumpah darah Indonesia. Oleh karena itulah, pada
Hari Pendidikan Nasional 2018 inimari kita satukan tekad untuk “Menguatkan
Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan” dengan disertai niat yang ikhlas serta
usaha yang keras tak kenal lelah dalam mengabdi di dunia pendidikan.
Kita
menyadari bahwa kondisi ideal pendidikan dan kebudayaan nasional yang kita
cita-citakan masih jauh dari jangkauan. Kita terus berusaha keras memperluas
akses pendidikan yang berkualitas, terus-menerus mengalibrasi praktik
pendidikan agar memiliki presisi atau ketelitian yang tinggi, sesuai dengan
tuntutan masyarakat, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan pembangunan. Di sisi
yang lain kita berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara
yang kaya raya dalam hal budaya. Sebagaimana diakui oleh salah satuAsisten
Direktur Jenderal UNESCO, yaitu Fransesco Bandarin, yang mengatakanbahwa
Indonesia sebagai negara adidaya (super power) kebudayaan. Kita terus menggali
kekayaan budaya Indonesia, melestarikan, dan mengembangkannya demi terwujudnya
Indonesia yang benar-benar adikuasa di bidang kebudayaan. Itulah sebabnya,
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan mengamanatkan
bahwa pemajuan kebudayaan memerlukan langkah strategis berupa upaya-upaya
pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan guna mewujudkan
masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari llpsecara
ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Cita-cita pendidikan dan
kebudayaan nasional hanya bisa terwujud jika kitabekerja keras dan berdaya
jelajah luas.
Hanya
dengan cara itu, kerja pendidikan dan kebudayaan dapat menjangkau seluruh
wilayah Indonesia. Apresiasi publik terhadap keberhasilan pemerintah yang
gencar membangun infrastruktur harus disertai dengan pembangunan sumber daya
manusia secara lebih sungguh-sungguh dan terencana. Sebagaimana kita ketahui,
dalam tiga tahun terakhir pemerintah telah membangun dan memperkuat
infrastruktur di hampir semua penjuru tanah air. Walaupun belum sepenuhnya
selesai, manfaatnya sudah dapat dinikmati, di antaranya semakin mempermudah
kerja pendidikan dalam memperluas akses, walaupun pada saat yang sama memaksa
kerja pendidikan harus sigap merespons secara positif terhadap perubahan tata
nilai, sebagai dampak dari perkembangan infrastruktur tersebut. Pendidikan juga
harus menyiapkan tenagatechnocraft, tenaga terampil dan kreatif, yang memiliki
daya adaptasi tinggi terhadap perubahan dunia kerja yang kian cepat dan
memiliki kemampuan berpresisi tinggi untuk mengisi teknostruktur sesuai denga
kebutuhan.
Pemerintah
telah bekerja tak kenal lelah, serta membangun dan memperkuat inftrastruktur
yang dapat menjadi sabuk pengikat pendidikan dan kebudayaan dalam ikatan
keindonesiaan, di antaranya betapa pesat perkembangan sarana-prasarana
transportasi yang telah dirasakan manfaatnya secara luas oleh masyarakat. Jalan-jalan
baru yang layak dan memadai telah mampu membuka akses wilayah Indonesia yang
terpencil, tertinggal, dan terdepan sehingga terbebas dari isolasi dan saling
terhubung. Demikian juga bendungan-bendungan baru yang dibangun dengan cepat
dapat mengairi tanah pertanian dan menjadi sumber pembangkit listrik yang
menjadikan desa-desa dan wilayah-wilayah lainnya hidup dengan penuh aktivitas
pendidikan dan kebudayaan. Meskipun terbatas, sesuai skala prioritas,
bangunan-bangunan baru sekolah juga didirikan di wilayah pedalaman dan
perbatasan. Tak heran jika akhirnya anak-anak di pedalaman mulai merasakan nikmat
belajar di sekolah yang memadai dan menyenangkan. Begitu pula saudara-saudara
kita di perbatasan kini bisa dengan tegap menunjukkan tapal batas negara yang
tidak hanya ditandai patok beton, besi, atau kayu ala kadarnya, tetapi bangunan
indah dan memadai yang menjadikan mereka lebih bangga.
Meskipun
demikian, harus diakui dengan jujur bahwa hamparan yang luas luar biasa dari
wilayah Indonesia menyebabkan belum semua wilayah tersentuh pembangunan
insfrastruktur yang bisa menjadi sabuk pendidikan dan kebudayaan dalam ikatan
keindonesiaan. Oleh karena itu, pada tahun-tahun mendatang pemerintah akan
memberikan prioritas pembangunan infrastruktur pada daerah terdepan, terluar,
dan tertinggal (3T) agar wilayah-wilayah tersebut terintegrasi dan terkoneksi
ke dalam layanan pendidikan dan kebudayaan. Bersamaan dengan pembangunan
infrastuktur pendidikan dan kebudayaan, dilakukan juga penguatan sumber daya
manusia (SDM) agar menjadi modal yang andal dan siap menghadapi perubahan zaman
yang melaju kencang, kompleks, tak terduga, dan multiarah. Oleh karena itu,
mulai tahun ini Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
mencanangkan prioritas pembangunan pada penguatan SDM. Di sinilah peran dan
tanggung jawab pendidikan dan kebudayaan akan semakin besar. Dalam penguatan
SDM tersebut terbentang tantangan internal dan eksternal sekaligus.
Tantangan
internal tampak pada gejala tergerusnya ketajaman akal budi dan kekukuhan
mentalitas kita. Misalnya, belakangan ini kita melihat melemahnya mentalitas
anak-anak kita akibat terpapar dan terdampak oleh maraknya simpul informasi
dari media sosial. Untuk menjawab tantangan ini, sejak awal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan telah meneguhkan pentingnya penguatan pendidikan
karakter dan literasi, selain ikhtiar mencerdaskan bangsa. Hal itu sejalan
dengan revolusi karakter bangsa sebagai bagian dari pengejawantahan program
Nawacita Presiden dan Wakil Presiden. Ikhtiar itu makin kuat menyusul
ditetapkannya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK), yang mengamanahkan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab
satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi
olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan pelibatan dan kerja sama
antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan
Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Kita
patut bersyukur karena ternyata antusiasme masyarakat terhadap gerakan PPK ini
luar biasa. Tak terhitung jumlahnya praktik-praktik baik PPK dibagikan oleh
masyarakat secara sukarela. Mereka menyadari bahwa penguatan karakter dan
literasi warga negara merupakan bagian penting yang menjadi ruh dalam kinerja
pendidikan dan kebudayaan, yang memerlukan pelibatan semua komponen bangsa
sebagaimana Ki Hajar Dewantara menempatkan hal ini dalam tripusat pendidikan,
yaitu sekolah, rumah, dan masyarakat. Salah satu bentuk penguatan tripusat
pendidikan adalah pelibatan keluarga dalam mendukung sukses pendidikan anak dan
penguatan karakter. Guru, orang tua, dan masyarakat harus menjadi sumber
kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan dalam
menumbuhkembangkan karakter dan literasi anak-anak Indonesia. Tripusat
pendidikan itu harus secara simultan menjadi lahan subur tempat persemaian
nilai-nilai religius, kejujuran, kerja keras, gotong-royong, dan seterusnya
bagi para penerus kedaulatan dan kemajuan bangsa.
Pada
saat yang bersamaan, tantangan eksternal muncul dari perubahan dunia yang
sangat cepat dan kompetitif. Hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada
cyber-physical system telah mengubah peri kehidupan kita. Artificial
intelligence, internet of things, 3D printing, robot, dan mesin-mesin cerdas
secara besar-besaran menggantikan tenaga kerja manusia. Kecepatan dan ketepatan
menjadi kunci dalam menghadapi gelombang perubahan tersebut, juga kemampuan
kita dalam beradaptasi dan bertindak gesit. Oleh karena itu, mau tidak mau
dunia pendidikan dan kebudayaan pun harus terus-menerus menyesuaikan dengan
dinamika tersebut. Cara lama tak mungkin lagi diterapkan untuk menanggapi
tantangan eksternal. Cara-cara yang baru perlu diciptakan dan dimanfaatkan.
Reformasi
sekolah, peningkatan kapasitas, dan profesionalisme guru, kurikulum yang hidup
dan dinamis, sarana dan prasarana yang andal, serta teknologi pembelajaran yang
mutakhir, menjadi keniscayaan pendidikan kita. Oleh karena itu, secara tulus
ingin saya katakan bahwa tidak bisa tidak, pendidikan harus menjadi urusan
semua pihak. Semua pihak harus bergandeng tangan, bahu-membahu, bersinergi
memikul tanggung jawab bersama dalam menguatkan pendidikan.
Kita
optimistis bahwa Indonesia memiliki semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi
bangsa besar dan maju, asal kita bersatu padu mewujudkannya. Selain jalur
pendidikan formal yang telah berhasil mendidik lebih dari 40 Juta anak,
pendidikan nonformal telah banyak memberikan andil dalam mencerdaskan bangsa.
Pendidikan harus dilakukan secara seimbang oleh tiga jalur, baik jalur formal,nonformal,
maupun informal. Ketiganya diposisikan setara dan saling melengkapi. Masyarakat
diberi kebebasan untuk memilih jalur pendidikan. Oleh karena itu,pemerintah
memberikan perhatian besar dalam meningkatkan ketiga jalur pendidikan tersebut.
Selamat Hari Pendidikan Nasional Teruslah ikhlas dan tulus berkontribusi tak
kenal henti bagi usaha menguatkan pendidikan Indonesia serta memajukan
kebudayaan Indonesia. Semoga kita semua dapat menyaksikan Indonesia sebagai
bangsa adidaya budaya dengan pendidikan yang kuat, (Pendim 0728/Wng).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar